Rabu, 04 Oktober 2017

empat oktober

Tak pernah sekalipun terbesit keinginan untuk mengenalmu lebih jauh. Dulu. Bahkan Saat itu rasanya terlalu jauh jika aku dan kamu bisa saling mendekat.
Sekarang, setelah sekian bulan pasca perkenalan aku mulai dapat mengetahui bagaimana karaktermu. Memang belum sepenuhnya, aku masih belajar untuk memahamimu. 
Banyak sekali hal yang sebenarnya ingin kuutarakan, namun setiap kali saling sapa lagi lagi mulutku kelu, atau justru kalimat lain lah yang terdengar di telingamu. Seperti pagi ini.
Aku tak mempercayai aku meloloskan kalimat itu untukmu dan bisa dibilang air mataku pun turut lolos. 
Bukan aku bermaksud untuk pergi darimu atau memintamu untuk melupakanku. Bukan itu inginku. Aku cuma berharap kamu bisa melangkah apa yang bisa kamu lakukan saat ini dan aku tak menjadi beban atau pikiran untukmu. 
Aku bukan perempuan yang suka menuntut ini itu untuk disegerakan. Aku juga ingin memahamimu. 
Harapan kita mungkin sama, kita ingin melangkah bersama, beriringan. Namun jika saat ini belum memungkinkan, tak apa. Saat ini kita masih memiliki kehidupan masing masing. Aku tak akan menghalangi langkahmu saat ini. Jika memang sudah saatnya nanti, aku yakin semua akan dimudahkan. Kita sama sama berjuang dalam Doa dan langkah.

Senin, 25 September 2017

dualima september

Malam ke sekian.

Malam ini ada yang berbeda.
Ada sesuatu di dalam tubuh ini yang terasa kian berdesir. Ah, lebih dari itu. Kali ini rasanya bergemuruh. Bagaimana bisa hati ini mendapat getaran dari yang lain, sementara yang kuharapkan adalah kepedulian darimu.

Minggu, 17 September 2017

Purnama ke enam

Sudah purnama ke enam aku mengenalmu. Memang benar kau berbeda dengan yang lain. Bagaimana caramu mendekatiku, bagaimana caranya belajar mengenalku, juga tentang bagaimana caranya menjagaku. 
Sudah sejauh ini, aku terus belajar memperbaiki diri, juga berusaha untuk mengenal duniamu. Bukan perkara mudah untukku peduli terhadap orang baru dalam hidupku.  Perlahan memang, aku tak ingin terburu buru karena perjalanan kita juga baru dimulai dan tentunya masih panjang.
Beriringan langkah denganmu memberiku banyak pembelajaran. 
Belajar untuk kembali ke masa sebelum mengenal "kebebasan"
belajar untuk mengontrol hati untuk tak mudah terpesona
Belajar Menyimpan rasa agar tak mudah meledak
Juga belajar untuk bersabar menanti sampai Datangnya kata "halal"


Terima Kasih karena kau tak pernah lelah untuk mengingatkan menjadi lebih baik dan memotivasiku untuk meraih mimpi yang belum usai.

Minggu, 11 Juni 2017

hari : 1 "about me"

Kapan terakhir kali menceritakan diri sendiri? hmm sampai lupa gegara terlalu sering menceritakan perkara hati. Ehh...

Namaku sesuai di KTP adalah Mifta Resti Khoiriah tetapi kebanyakan temanku panggilnya baban, kok bisa? ini karena salah seorang teman kuliah memanggilku begitu, "kan dari Banjarnegara", katanya. up to you lah, yang penting nggak panggil yang aneh aneh aja. Sejak lahir hingga usia 22 tahun berdomisili di kota kecil di Jawa Tengah, yakni Banjarnegara. Baru pada umur ke 23 (tahun ini) menapaki tanah rantau untuk satu tahun di Maluku Tengah demi pengabdian pada negeri *ceileeeh. Sejak SMP bermimpi dan berkeinginan jadi seorang penulis (yang sampai sekarangpun sepertinya masih belum terbangun dari mimpi untuk belajar mewujudkannya). Sejak punya sisa uang saku (smp) mulai suka beli novel sampai rak bukunya penuh, tetapi belum semuanya terbaca. Tak ada penulis idola ataupun buku favorit karena menurutku semua ada ciri khasnya masing-masing. Waktu luang setahun terakir paling sering dihabiskan dengan nonton film, dan tidur, sampai haus bacaan. Maklum di daerah pedalaman tidak ada toko buku, sinyal internetpun jarang-jarang. Aktivitas sekarang adalah jadi dosen. Dosennya anak-anak SD :-) Berbagi ilmu, mendongeng, dan bermain bersama anak-anak Indonesia Timur.

*sepertinya terlalu banyak yaaa...

Oke, kalau begitu cukup sekian dan terima kasih.

#basabasistore #kampusfiksi  

Selasa, 06 Juni 2017

Senja


Senja ini tak sama seperti senja pada hari hari sebelumnya. Ya, pada detik ini kurasakan sesuatu yang amat berbeda. Ketika waktu waktu lalu selalu kutepis apa yang hinggap di hati, hari ini aku tak mampu lagi mengelak. Aku merindukan tawamu. Aku ingin celotehan panjangmu menghiasi malamku lagi.
Bagaimana keadaanmu? tak mampukah untuk memberitahu barang sekalimat padaku? 
Ponselmu sepi? Memang aku tak menghubungimu lebih dulu. Bukan berarti ku tak peduli. Bukan berarti aku sibuk tanpa memikirkanmu.
Aku hanya takut. Aku takut mengusikmu. Ah, bukan. Aku takut mengganggu istirahatmu.
Sudah pulihkah keadaanmu? Di tempat yang jauh darimu, aku hanya mampu mendoakan supaya kelak tawamu terdengar kembali. Menemani hari hari sepiku lagi. Di tempat yang jauh darimu, aku hanya mampu menunggu kabar baik, secepatnya.
Begitu banyak yang ingin kubagi denganmu. Tentang sekolah, tentang rumah, tentang kawan, juga tentang angan. Jadi, kapan memberi kabar sayang? 

Jangan pernah lupa kalau Bandung - Amsterdam itu jauh!