Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Juni 2017

Senja


Senja ini tak sama seperti senja pada hari hari sebelumnya. Ya, pada detik ini kurasakan sesuatu yang amat berbeda. Ketika waktu waktu lalu selalu kutepis apa yang hinggap di hati, hari ini aku tak mampu lagi mengelak. Aku merindukan tawamu. Aku ingin celotehan panjangmu menghiasi malamku lagi.
Bagaimana keadaanmu? tak mampukah untuk memberitahu barang sekalimat padaku? 
Ponselmu sepi? Memang aku tak menghubungimu lebih dulu. Bukan berarti ku tak peduli. Bukan berarti aku sibuk tanpa memikirkanmu.
Aku hanya takut. Aku takut mengusikmu. Ah, bukan. Aku takut mengganggu istirahatmu.
Sudah pulihkah keadaanmu? Di tempat yang jauh darimu, aku hanya mampu mendoakan supaya kelak tawamu terdengar kembali. Menemani hari hari sepiku lagi. Di tempat yang jauh darimu, aku hanya mampu menunggu kabar baik, secepatnya.
Begitu banyak yang ingin kubagi denganmu. Tentang sekolah, tentang rumah, tentang kawan, juga tentang angan. Jadi, kapan memberi kabar sayang? 

Jangan pernah lupa kalau Bandung - Amsterdam itu jauh!

Senin, 05 Juni 2017

Lari pagi

Hari libur selalu menjadi momen yang paling tepat untuk menghabiskan waktu bersama orang kesayangan. Tapi tak semuanya begitu. Akupun memilih untuk lari pagi menyusuri jalan Asia Afrika sebelum dipadati para pelancong. 
Cukup menguras keringat dan tanpa kusadari kakiku berhenti tepat di samping patung bulat dengan bendera merah-putih-biru tertancap di atasnya. Lagi lagi aku harus menerima takdir ini. Sejauh apapun melarikan diri, tetap kamulah yang mengisi seluruh ruang hatiku.
Sudah tiga hari tak ada pesan masuk darimu, sudah pulihkah? Sudah jadi berobat? Yakinkah aku mampu bertahan hingga kepulanganmu? 
Pagi yang cerah ini, mendadak hujan. Hanya membasahi pipiku. Segera kulanjutan berlari, sejauh kemampuan kaki.
Beginikah cara menguatkan diri, sendirian? Tanpa semangatmu, tanpa genggamanmu, tanpa pelukanmu.

Kamis, 01 Juni 2017

Rindu

Sudah lama tak mengirim kata untukmu.
Kamu, apa kabar?
kuharap kau selalu dalam lindunganNya.
Boleh kusedikit berbagi rasa?
aku rindu.
Entah apa atau siapa yang paling kurindu. Jelasnya, hati ini seolah kembali melemah. Dipermainkan oleh perasaan. Kamu, apakah merindukanku? lalu bagaimana jika aku justru merindukan yang lain?
Jika diminta menerangkan siapa saja yang kurindu, salah satunya adalah seseorang yang sekarang rajin berbagi cerita denganku. Aku tak tahu apakah aku sudah boleh merindukannya atau belum. Bukankah rasa tak dapat dipungkiri?
Lalu, siapa yang kini sedang kau rindu? kuharap siapapun dia dapat menjadi sumber bahagia untukmu.

Senin, 12 Oktober 2015

Aku Cinta Papua



               
Mamberamo. Di sinilah aku sekarang. Sebuah daerah terpencil di pedalaman Papua. Sebuah wilayah yang takkan muncul di google map atau bahkan atlas. Berdasarkan garis lintang dan garis bujur, tentu pada titik yang kumaksud hanya tampak warna hijau. Tempatku berpijak kini tepatnya berada di Mamberamo Ulu. Kecamatan ini  memang hanya perkampungan diantara hutan dan sungai besar. Bahkan untuk menuju wilayah kabupaten harus menempuh perjalanan enam jam menggunakan speedboat.
“Bu guru Luna, mari kita berangkat!” teriak suara melengking anak perempuan dari luar kelas.
“Iya, sebentar.” Aku buru-buru membereskan hasil ulangan siswa dan segera berlari ke luar kelas.
“Ayo bu guru, aku sudah tidak sabar mau berenang di air terjun,” tangan-tangan kecil menggamit kedua tanganku dan berjalan riang di samping kanan - kiriku.
“Bu guru juga ingin sekali melihatnya, apa benar cerita yang selalu dikatakan oleh Bertus kalau air terjun itu sangat indah ataukah hanya imajinasinya saja,” sahutku sambil bergurau.
“Benar bu guru, aku tak pernah berbohong,” bela Bertus yang berjalan bersama ke tiga temannya di depanku.

Minggu, 11 Oktober 2015

Sebuah Tanda


Aku tersentak. Kulihat jam dinding yang tertempel pada bilik kamar menunjuk angka satu. Masih tengah malam. Tanpa terasa keringat dingin mengucur dari pori-pori kulit wajahku. Aku meringkuk. Tanganku gemetar merengkuh kedua kakiku. Aku takut.
            Aku menoleh wanita separuh baya yang terbaring di samping kananku. Masih terlelap dalam tidurnya. Raut wajah yang mulai keriput menampakkan keletihan.
            “Bu, Tita mimpi ayah lagi...” ucapku berbisik di depan wajah beliau.
            Sudah seminggu terakhir aku selalu memimpikan Ayah. Tak tahu pasti dimana lokasinya. Kadang melihat ayah sedang menatap kosong. Melihat ayah duduk sendiri di tengah keramaian. Melihat ayah hampir tertabrak mobil ketika sedang menyebrang. Dan mimpi terburuk adalah malam ini. Aku tak sanggup untuk membayangkannya lagi. Ayah, Tita kangen. Tita nggak mau mimpi-mimpi buruk tentang Ayah lagi. Semoga ayah baik-baik saja di sana ya...
***

Kamis, 08 Oktober 2015

Perihal Khianat

Prang!
Suara benda pecah kembali terdengar. Sudah bisa dipastikan itu pertanda perang akan di mulai. Ada apa lagi ini?
“Mau kemana keluar tengah malam begini? menyusul pelacurmu yang sedang sekarat di rumah sakit?” teriak seorang perempuan terdengar begitu jelas.
“Jangan pernah menyebutnya pelacur, Merli. Dia punya nama, Kinanti!” suara bariton terdengar tak kalah keras. “Oh ya, urus saja anakmu yang tidak berguna,” lanjutnya. Tak lama kemudian terdengar suara pintu dibanting.
Anak tak berguna? Iya aku tahu siapa yang dimaksudnya. Siapa lagi kalau bukan aku, seorang gadis berumur tujuh belas tahun yang sama sekali tak berguna, bahkan hanya untuk mengurus diri sendiri pun tak mampu. Apa lagi yang mau di harapkan dari gadis yang hanya terbaring di atas kasur dan terisolasi dalam sebuah ruangan berdinding ungu gelap selama berbulan-bulan?

Senin, 20 Juli 2015

Kali ini tentang Rasa

Rasa itu datang kembali. Sebuah rasa takut akan sebuah kehilangan. Kukira ini hanyalah suatu kecemburuan semata, namun semakin lama rasa khawatir itu kian menggunung. Hingga akhirnya meledak juga.
Malam ini aku, kamu, dia, dan mereka berkumpul menjadi satu di sebuah aula besar untuk merayakan pesta perpisahan.Aku duduk satu meja dengan teman-teman yang masih sibuk meributkan busana untuk wisuda nanti, sementara kamu juga bergabung dengan teman-teman lelakimu di meja ujung yang bersebelahan dengan meja yang dia tempati bersama kawan-kawannya. 
Dari jarak tak sampai tujuh meter, aku bisa dengan jelas melihatmu tertawa setelah menjahili teman di sebelahmu, aku bisa mengamati raut bahagia dari wajahmu. Semoga saja akan selalu begitu. Pesta perpisahan ini sepertinya benar-benar menjadi sebuah perpisahan untuk kita juga karena ketika wisuda nanti kita belum tentu berjumpa. Kamu yang memakai kemeja panjang yang digulung sampai siku, maafkan aku jika malam ini aku akan banyak mencuri pandang wajahmu.

Sabtu, 20 Juni 2015

FF: Doa


Pagi ini kuberanikan diri untuk mengunjungimu. Kubawakan seikat bunga mawar putih untukmu. Seperti yang kamu lakukan ketika pertama kali mengutarakan perasaanmu padaku. 
"Hai, apa kabar?" sapaku terduduk di depanmu.
...
"Ini kubawakan bunga, masih ingat tentang bunga ini?" kuletakkan bunga itu di pangkuanmu.
...
"Maaf, setelah hampir setahun, aku baru mengunjungimu," aku menunduk, tak mampu memandangmu.
...
"Dulu, dua tahun yang lalu aku pernah merasa bahagia. Sangat bahagia. Bahkan satu kali pernah kurasakan sebuah dekapan erat dari belakang. Saat itu benar-benar terharu, merasa ada seseorang yang takut kehilanganku. Kemudian aku berdoa agar bisa selamanya begitu." Aku menghela nafas panjang.
...

Senin, 01 Juni 2015

Kabar

Dear you...

Apa kabar kamu? 
Kuharap kamu selalu sehat di sana.
Lama tak jumpa ya...
Sudah sampai mana desertasimu? Terakhir komunikasi kamu mengatakan sedang sibuk dengan tugas akhirmu itu. Oh ya, omong-omong soal tugas akhir, aku mau memberi tahu sekaligus  minta doa agar dilancarkan ujian skripsiku hari kamis, 4 juni 2015. Ayo kamu segera menyusul. Bukankah kamu pernah mengatakan kalau imgin cepat menyandang ggelar mastermu? Kutunggu kabar terselesainya studimu di pulau seberang.
Dear, setelah sekian lama kamu pergi dari pandanganku, yang akhirnya pergi juga dari kehidupanku, nyatanya bayangmu masih belum pergi dari hatiku. Maafkan untuk pengakuanku ini. Mungkin memang tak pantas lagi kukatakan seperti itu karena semua telah berakhir ribuan hari lalu. Aku bahkan tak mampu menghitung berapa banyak hari yang lulalui tanpamu. 

Senin, 30 Maret 2015

Membagi Hati

"Sayang?"
Aku mendongak. Memberi respon dengan ekspresi tanda tanya.
"Nasinya di makan dulu," ucapnya lembut, menatap lurus mataku.
"Aku nggak lapar. Tadi kan aku udah bilang, es krim aja cukup. Nggak usah pesan nasi," sahutku datar.
Lelaki di depanku kembali terdiam. Kedua tangannya dilipat dia atas meja dan tatapannya masih belum beranjak ke arah lain.
"Please, jangan menatapku seperti itu," komentarku jengah, lalu kembali pada layar10 inchi di depanku.
Keheningan menyelimuti kami berdua.
Cahaya malam dan lampu-lampu jalan yang biasanya selalu kupuja berlama-lama, kini sama sekali tak menarik perhatianku. Duduk di tempat favorit dengan hidangan kesukaan tak jua mengembalikan selera makanku yang hilang sejak beberapa hari lalu.
"Sayang, aku minta maaf."
...

Minggu, 01 Maret 2015

FF: Jo

"Hai Nes, apa kabar?" Seseorang tiba-tiba duduk di sebelahku yang sedang membalas sebuah pesan singkat.
Aku menoleh. Astaga...
"Ha..hai Jo. Baik, kamu ?" aku balik bertanya singkat, sulit untuk merangkai kata lebih panjang.
"Seperti yang kamu lihat, masih tetap kurus, hehehe," Jo meregangkan tangannya menunjukkan ukuran tubuhnya.
Tangan yang merentang itu seolah sedang menunggu balasan. Ah, Jo. jika saja kita masih sama seperti dulu, tentu dengan cepat aku akan segera menghambur memelukmu. Kamu tahu kebiasaanku ketika perjumpaan setelah lama tak bertemu kan? tanpa basa-basi, aku langsung menuju pelukanmu mengurai rindu yang menumpuk. Jika sudah ada di rengkuhanmu, maka aku akan berbisik, "Kangen..." dan kamu selalu menjawab dengan senyuman.

Sabtu, 28 Februari 2015

Tentang Viko

Liburan kembali menyapa. Setelah disibukkan dengan berbagai kegiatan di kampus, sekarang waktunya untuk refreshing. Lagi libur gini paling enak ngumpul sama sahabat buat hangout bareng, apalagi kalau lama nggak ketemu. Kuhubungi kedua sahabatku dan janjian ketemu di kedai coklat favorit kami.
"Hai Sil, makin cantik aja. Gimana kabarnya nih, sombong banget jarang komunikasian," Dyana menyapaku langsung dengan kebiasaan berkomentarnya.
Aku tersenyum, "Kan aku udah bilang akhir semester kemarin banyak banget kegiatan, ada pagelaran seni, kegiatan organisasi, UAS juga. Maklumi aja sahabatmu yang mendadak jadi orang sibuk, hehehe," Jawabku berasa curhat.
"Iya deh iya yang sibuk. Eh, tumben aku duluan yang dateng, biasanya Rani paling semangat kalau diajak kemari,"
"Tau tuh anak, nggak ngabarin juga udah sampai mana. Tungguin aja deh,"
"Ok. Ehm, Ciee, ada yang clbk nih. Belum makan-makan loh Sil,"
Aku terkekeh, "Kamu tahu sendiri aku sama Sandy dulu putusnya karena dia studi ke London. Sekarang udah balik, kami masih sama-sama sayang, ya balik lagi deh."
"Selamat ya, udah nggak uring-uringan lagi. Long last ya...."

Minggu, 15 Februari 2015

Bersabarlah sobat


Weekend. Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya aku bisa menikmati salah satu keindahan ciptaan Tuhan yang menakjubkan. Ya, Laut. Pantai. Traveling kemanapun, selalu disempatkan untuk menemui pantai.
"Tiara, senyum-senyum mulu dari tadi. Segitu bahagianya ketemu pantai ya?" tanya Kirani, sahabatku sedikit heran.
"Kiran sayang, udah sebulan lebih kita sama-sama sibuk ngurus tugas kuliah. Otakku udah panas banget dan butuh penyegaran. Akhirnya bisa bernapas lega bisa menikmati pantai," aku nyengir tak bisa menyembunyikan bahagiaku.
Kirani tak menanggapi alasanku. Ketika kutoleh, gadis mungil itu sudah duduk dengan meluruskan kaki di atas pasir. Bersyukur sabtu sore ini matahari nampak begitu cerah, tak mendung seperti biasanya.

Sabtu, 07 Februari 2015

Kepada Tuan Jerapah


To: Mr. Giraffe
 
Selamat malam Tuan,
Apa kabarnya sekarang? Ah iya, maaf tadi aku lupa menanyakan kabarmu ketika kita bercakap.
Masih ingat tanggal berapa ini tuan? Aku lebih dari yakin percakapan kita siang tadi memang sudah terencana. Benarkah dugaanku? Usah menjawab, aku tak perlu tahu kok, karena mungkin jawabanmu akan mempengaruhi pikiranku.
Apakah hari ini istimewa Tuan? Setidaknya tanggal ini. Jika bukan di tahun ini, tentu yang pasti istimewa itu ada di tahun yang lalu. Aku tak tahu apakah kamu begitu menyukai angka tujuh atau memang takdir yang membuatnya?

Jumat, 16 Januari 2015

FlashFiction: Luka

Sore ini aku mengunjungimu. Banyak hari telah berlalu dan keadaanmu masih tetap sama, duduk di ujung ranjang, dibalik jendela. Masih mengharap kehadiran pelangi selepas hujan, yang nyatanya langit masih selalu terik.
Seperti biasa, kuulurkan sebatang lolipop serambi meletakkan bokong di sebelah dudukmu. Matamu tertuju pada lolipop, lalu tersenyum sesaat. Dengan perlahan kau buka plastiknya dan langsung melahap nikmat. Ekspresimu kembali datar menatap daun berserak yang tertiup angin di pekarangan.
Kuraih gadget ukuran 7" yang berada di belakangmu. Ternyata masih membuka aplikasi sosmed yang menampilkan gambar seorang perempuan bersama dua lelaki.
 "Bagaimana bisa kamu mengatakan sudah maafkannya, bahkan hanya untuk melihat senyumnya di foto kamu menjadi begitu hancur. Seberapa besar kau membenci perempuan itu? bukankah tempo hari sudah saling minta maaf dan memaafkan? lagi pula sudah tak ada hak untukmu membencinya. Semua sudah menjadi masa lalu. Berdamailah dengan keadaan. Masih banyak hal yang bisa kau lalui tanpa melibatkannya!" Tanpa mampu kupendam aku memakimu. Maaf.

Minggu, 28 Desember 2014

Al Yassin



                “Samudra…!”
                Suara perempuan setengah baya memecahkan keheningan rumah di siang bolong.
                “Iya mama, ada apa?” sahut anak lelaki tak kalah lantang dari dalam rumah.
                “Kau sudah dengar adzan? lekaslah ke masjid.”
                “Iya mama, Sam punya sarung sedang dipakai.”
                Anak lelaki berumur sepuluh tahun itu segera membenahi sarung yang dipakai kemudian bergegas menuju masjid yang hanya berjarak 20 meter dari rumah.
                Sambil bersenandung riang, Sam melangkahkan kakinya menuju rumah ibadah satu-satunya di kampungnya. Mendadak langkahnya terhenti tepat di depan gerbang masjid, kemudian menoleh kearah kanan dan membaca tulisan yang ada di papan.
                “Masjid Al Yassin, Kampung Patimburak, Distrik Kokas.”
                “Sedang apa kau Sam?” seorang bapak tiba-tiba menepuk bahu Samudra.

Sabtu, 22 November 2014

Pengabaian



Cinta datang seiring adanya perhatian yang terus menerus, cinta pergi seiring adanya pengabaian. Itu saja. Tidakkah kau setuju dengan ucapanku? Buktikan saja. Ketika sering diberi perhatian, tumbuhlah benih-benih cinta karena terbiasa. Indah dunia karena bisa menikmati hari dengan saling memberi rasa bersama. Sebaliknya, cinta akan pudar setelah berulang kali mendapatkan pengabaian. Luka yang muncul karena diacuhkan, semakin lama akan mengikis perasaan yang disebut cinta.
Boneka Bear, kotak music, dan sepucuk surat. Tiga benda pemberian seseorang yang sekarang harus kumasukkan ke dalam sebuah kardus. Bukan untuk dibuang atau diloakkan, hanya perlu disimpan agar tak terlihat mata. Karena setiap pandangan menangkap benda-benda tersebut, mata seketika ingin menitikkan Kristal bening dari dalamnya. Teringat pemberinya, luka-luka yang telah menggores hati, kembali terasa pedih. Nyeri.
“Clara…” Panggil seseorang dari arah pintu kamar.
“Hai,” balasku setelah menoleh panggilan dari sahabatku.
“Udahlah Cla, jangan terus menyakiti dirimu sendiri.”
“Ini cinta pertamaku, Cla. Aku serius menjalani hubungan ini, setulus hati. Namun ternyata aku buta.”

Rabu, 15 Oktober 2014

Dibalik Layar


Alhamdulillah, 
bahagia banget akhirnya punya novel sendiri juga... :)
Kyaaaa! ini impian sejak SMP dan baru terealisasikan kuliah semester 7. 
Ide-ide yang kugabungkan jadi satu ternyata bisa membentuk sebuah novel. Terlepas dari kualitas novel yang jauh dari sempurna, tetap ada perasaan puas karena kebiasaan mengkhayal dan corat-coretku bisa membuahkan hasil. :)

About "Hadirmu Lumpuhkan Ingatanku" :

"Memandang matanya yang selalu berbinar, mengamati senyumnya yang menawan, itu yang kurindukan." (Kirani)
"Rara, kamu tetap menjadi gadis cantik sahabat kecilku, meski kini aku tak bisa memilikimu," (Satya)
"Kirani Rara Laksmi. Kamu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah kamu lakukan!" (Nando)




Rabu, 03 September 2014

Terlambat



Kulirik jam bentuk segi enam yang terpasang di dinding sebelah pintu. Ah, ternyata sudah tengah siang, pantas saja kerongkonganku sudah kering. Aku beranjak dari kursi kerjaku nan empuk dan berniat membuat jus melon di dapur.
Baru saja keluar ruang kerja, bel pintu rumah berdenting, sepertinya hari ini aku tak ada janji dengan siapapun. Langkah pun berbelok menuju ruang tamu dan segera membuka pintu setelah kuputar kunci yang tergantung di daun pintu.
“Selamat siang Mbak Nabila…” Sapa seorang bapak yang ada dihadapanku.
“Eh Pak Maman, selamat siang. Mari silakan masuk.” Sambutku ramah pada Pak RT.
“Terima kasih mbak, saya cuma mau menyampaikan undangan saja. Ini.” Beliau menyerahkan sepucuk undangan berwarna merah marun.

Kamis, 10 Juli 2014

terima kasih, cinta

Aku mencintaimu dengan sederhana. Apa adanya. Tapi tidak, setelah kita menjalani suatu hubungan. Kesederhanaan itu telah mendapat banyak bumbu. Apalagi ketika sudah ada orang lain, ada beberapa yang membuatku khawatir dan takut, namun disisi lain ada pula yang menguatkan dan meyakinkanku.
Sayang, kamu tahu bagaimana rasanya memiliki kekasih yang memiliki banyak teman perempuan, yang diantaranya banyak pula yang berharap lebih padamu? Tentu saja khawatir kau akan menanggapi mereka.
Namun, tak begitu. aku tak hanya berpikir demikian. Kau telah memilihku, artinya aku selangkah lebih dekat di hatimu, bukan?