Hari ini (12/01) teman-teman relawan Sekolah Inspirasi Pedalaman kembali mengadakan kegiatan di salah satu sekolah yang berada di Banjarnegara, yakni SDN 1 Pesangkalan. Sekolah ini sebenarnya bukan sekolah pedalaman, juga sudah melepas statusnya dari sekolah daerah terpencil. Tujuan para relawan @sipbanjarnegara ini adalah untuk berbagi semangat belajar dan menginspirasi anak-anak di sana. Untuk menempuh sekolah ini memerlukan waktu hampir satu jam perjalanan dari kota melewati hutan pinus dan perkebunan dengan medan yang curam, beruntung semua jalan sudah aspal. Sepanjang jalan pun dimanjakan dengan pemandangan yang indah karena suasana masih asri dan lokasi tujuannya berada di puncak bukit.
Sabtu, 12 Januari 2019
Kamis, 20 September 2018
DuapuluhSeptember
Hari ini kita membuka percakapan yang telah lama kita tinggalkan. Atau lebih tepatnya mendiskusikan sesuatu yang sebelumnya hanya terbang pada pikiran masing-masing. Mau di bawa kemana hubungan kita? membangun hubungan di rumahku, rumahmu atau mencari jalan tengah? harus ada kelapangan hati bagi kita berdua untuk memutuskan.
Benar. ini bukan perkara mudah karena satu langkah yang kita tapaki sekarang, akan berdampak pada masa depan kita. Istikharah kita lakukan memohon petunjuk terbaik dariNya.
Benar. ini bukan perkara mudah karena satu langkah yang kita tapaki sekarang, akan berdampak pada masa depan kita. Istikharah kita lakukan memohon petunjuk terbaik dariNya.
Senin, 02 Juli 2018
DuaJuli
Menerimamu masuk ke dalam hidupku adalah sebuah keputusan berharga. Aku tahu diluar sana ada yang mengharapkanku untuk bersanding disisinya. Namun kutahu, hati ini memilihmu untuk kau jaga. Aku tahu jika harus ada perasaan lain yang tersakiti. Dan itulah resiko yang harus kuhadapi. Jika diminta memilih yang terbaik, mungkin orang lain ada yang lebih darimu, namun aku ingin berhenti di kamu. Bagiku, kamu sudah lebih dari yang kuharapkan.
Jagalah selalu hatiku, hatimu, juga komitmen yang telah kita bangun.
Jagalah selalu hatiku, hatimu, juga komitmen yang telah kita bangun.
Minggu, 17 Juni 2018
tujuhbelasjuni
Kamu adalah lelaki yang belum lama kukenal. Sejak mengetahui tentangmu, sempat terpikir tak mungkin kita suatu hari akan bersanding. Jarak kita terlalu jauh. Setelah sekian waktu berlalu, kita bertegur sapa juga. Sejak itu, kita berbagi cerita. Namun tak lantas aku berani berpikir macam-macam tentangmu. Aku dan kamu adalah dua orang asing yang terikat dalam satuan pengabdian. Seperti pada teman-teman lelaki yang lain, aku selalu berusaha untuk menjaga jarak. Sudah cukup bahwa aku pernah berharap, lalu saat sedang bahagia-bahagianya, terpatahkan.
Qodarullah, komunikasi kita tak pernah terputus dan herannya aku bisa mudah terbuka denganmu. Sampai suatu hari kita "berbicara" dan sepakat untuk melangkah bersama. Bukan hal yang mudah ketika kita bersama namun sama-sama tak ingin dalam sebuah ikatan sebelum pernikahan. aku dengan duniaku dan kamu tetap dengan kehidupanmu sendiri.
Qodarullah, komunikasi kita tak pernah terputus dan herannya aku bisa mudah terbuka denganmu. Sampai suatu hari kita "berbicara" dan sepakat untuk melangkah bersama. Bukan hal yang mudah ketika kita bersama namun sama-sama tak ingin dalam sebuah ikatan sebelum pernikahan. aku dengan duniaku dan kamu tetap dengan kehidupanmu sendiri.
Selasa, 12 Juni 2018
DuabelasJuni
Sudah hari ke-empat pulang dari tanah rantau. Kamu menghubungiku dan mengatakan sudah dalam perjalanan menuju rumah. Kamu tahu bagaimana perasaanku? ya. Tentu saja sangat bahagia karena secepat itu kita akan bertemu. Namun di sisi lain hatiku masih meragu. Sejak peristiwa beberapa waktu lalu, perdebatan yang tak usai, diskusi yang tak kutemui jawabannya membuat pikiran tak nyaman.
Lalu pada akhirnya kita membuka percakapan dan membahasnya kembali. Sedih dan bahagia silih berganti dalam waktu yang sebentar.
Aku kembali luluh. Ya, hebatnya kamu adalah selalu bisa mencari kata yang tepat untuk sampai ke hatiku.
Lalu kemudian sesuatu yang selama ini kudambakan, sesuatu yang sebenarnya takut untuk diangankan, terwujud.
Kamu meyakinkan kedua orangtuaku. Terima kasih.
Lalu pada akhirnya kita membuka percakapan dan membahasnya kembali. Sedih dan bahagia silih berganti dalam waktu yang sebentar.
Aku kembali luluh. Ya, hebatnya kamu adalah selalu bisa mencari kata yang tepat untuk sampai ke hatiku.
Lalu kemudian sesuatu yang selama ini kudambakan, sesuatu yang sebenarnya takut untuk diangankan, terwujud.
Kamu meyakinkan kedua orangtuaku. Terima kasih.
Langganan:
Postingan (Atom)
