Kulirik jam bentuk segi enam yang
terpasang di dinding sebelah pintu. Ah, ternyata sudah tengah siang, pantas
saja kerongkonganku sudah kering. Aku beranjak dari kursi kerjaku nan empuk dan
berniat membuat jus melon di dapur.
Baru saja keluar ruang kerja, bel
pintu rumah berdenting, sepertinya hari ini aku tak ada janji dengan siapapun.
Langkah pun berbelok menuju ruang tamu dan segera membuka pintu setelah kuputar
kunci yang tergantung di daun pintu.
“Selamat siang Mbak Nabila…” Sapa
seorang bapak yang ada dihadapanku.
“Eh Pak Maman, selamat siang.
Mari silakan masuk.” Sambutku ramah pada Pak RT.
“Terima kasih mbak, saya cuma mau
menyampaikan undangan saja. Ini.” Beliau menyerahkan sepucuk undangan berwarna
merah marun.