Hai Tuan, apa kabarnya?
Mungkin kau baik-baik saja di sana.
Tapi kutahu, aku tak baik-baik saja di sini.
Mungkin kau tak tahu apa yang terjadi denganku sepanjang kepergianmu ratusan hari silam. Ribuan jam selepas menghilangnya kamu dari pandanganku, aku tak kuasa untuk menggenggam kerinduan. aku tak yakin kau akan datang kembali.
Ribuan jam setelahnya, aku mencoba membuka jalan untuk yang ingin mendekat. Setengah hati, mungkin tak apa. Aku tak peduli bagaimana caranya menghapus jejakmu di hati ini. Pada akhirnya aku menyadari imbasnya begitu fatal. Hati membeku dan pikiran mengeras.
Banyak telapak kaki melangkah pada jalan yang kubuat. Banyak pula lelah yang kudapat. Tak kunjung kutemukan kedamaian dalam dada. Dengan kerasnya namamu tak mau terhapus oleh waktu. Aku putus asa terjebak oleh perangkap ketidakpastianmu dalam kurun yang tak sebentar.
Kemarin. Ya, kemarin ketika peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Kurasa hari itu juga kemerdekaan hatiku. Setelah ratusan hari kau pergi, tiba-tiba muncul di depan mata. Wajahku menghangat, sementara tangan dan kakiku mendingin.Aku tahu, aku sedang merasakah hal yang sama seperti sebelum kau menghilang.
Mungkin kau baik-baik saja di sana.
Tapi kutahu, aku tak baik-baik saja di sini.
Mungkin kau tak tahu apa yang terjadi denganku sepanjang kepergianmu ratusan hari silam. Ribuan jam selepas menghilangnya kamu dari pandanganku, aku tak kuasa untuk menggenggam kerinduan. aku tak yakin kau akan datang kembali.
Ribuan jam setelahnya, aku mencoba membuka jalan untuk yang ingin mendekat. Setengah hati, mungkin tak apa. Aku tak peduli bagaimana caranya menghapus jejakmu di hati ini. Pada akhirnya aku menyadari imbasnya begitu fatal. Hati membeku dan pikiran mengeras.
Banyak telapak kaki melangkah pada jalan yang kubuat. Banyak pula lelah yang kudapat. Tak kunjung kutemukan kedamaian dalam dada. Dengan kerasnya namamu tak mau terhapus oleh waktu. Aku putus asa terjebak oleh perangkap ketidakpastianmu dalam kurun yang tak sebentar.
Kemarin. Ya, kemarin ketika peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Kurasa hari itu juga kemerdekaan hatiku. Setelah ratusan hari kau pergi, tiba-tiba muncul di depan mata. Wajahku menghangat, sementara tangan dan kakiku mendingin.Aku tahu, aku sedang merasakah hal yang sama seperti sebelum kau menghilang.