Senin, 22 Juli 2013

Calon Dokter



Dia dokter. Ah, bukan. Lebih tepatnya calon dokter. Tubuhnya tinggi dan  putih. Bisa dibilang badannya tidak terlalu berisi, tulang selangkanya sangat jelas terbentuk. Meski begitu, tak pernah kudengar ia mengeluh sakit.
Wajahnya tirus, oval dan jika tersenyum dagunya nampak semakin melengkung, tipis. Rambutnya tebal dan sedikit pirang. Jika dibuat jambul, manjadi mirip bule. Jika di sisir rapi tipis, ditambah kacamata mungil yang melindungi kedua matanya, membuat calon dokter itu lebih terlihat cerdas.
Jas putih yang selalu dikenakan ketika praktik membuatnya semakin gagah. Tak pernah ia lupakan seulas senyuman untuk setiap pasien yang memerlukan bantuannya. Satu kebiasaan yang sedikit berbeda dengan orang lain, jam tangannya selalu melingkar di pergelangan tangan kanannya.
Tulisan. Ya, hanya dengan sebuah tulisan aku berhasil menemukannya. Tulisan yang telah menyadarkanku akan Tuhan, tulisan yang sukses mengetuk hatiku yang keras, tulisan yang memaksaku untuk memahami makna sebuah perjuangan.
Aku tak akan menyebut apa yang kurasakan tentangnya adalah cinta. Omong kosong cinta jika kami belum saling kenal. Bagiku cinta adalah ketika seorang lelaki dan perempuan sudah saling mengenal dan memahami hati lawan jenisnya, bukan hanya sebatas pandang mata atau pertemuan sekali.
Sejujurnya tak ingin berharap lebih untuk bisa menjadi dekat dengannya, namun, tak tahu dari mana keyakinan itu datang, aku percaya kami akan dipertemukan kembali, pada waktu dan tempat yang indah.  Ketika semuanya telah berjalan lancar.
    

2 komentar:

  1. ciee resti,,:P
    aamiiin yaa rahman,,kutunggu undangan walimahmu cantik :D

    BalasHapus
  2. isnaaaa....
    hehe, itu tulisan iseng, tapiin, diamini boleh juga, :p

    BalasHapus